PERAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI DI LINGKUNGAN KAMPUS
Apakah organisasi itu?
Menurut Erni Rernawan organisasi merupakan suatu kesatuan sosial dari sekelompok manusia yang saling berinteraksi menurut suatu pola tertentu sehingga setiap anggota organisasi memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing, sebagai suatu kesatuan yang memiliki tujuan tertentu dan mempunyai batas-batas yang jelas, sehingga bisa dipisahkan (Erni Rernawan, 2011). Dari pengertian organisasi tersebut dapat disimpulkan bahwa organisasi merupakan media bagi orang-orang yang saling bekerja sama antara satu dengan yang lainnya dalam sebuah proses kegiatan dan tidak saling merugikan dalam mencapai tujuan yang disepakati. Organisasi muncul dan berkembang dipengaruhi oleh perkembangan zaman yang berjalan terus-menerus.
Pada dasarnya terbentuknya suatu organisasi akibat pengaruh aspek-aspek tertentu seperti penggabungan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan kehadiran orang-orang tersebut terhadap orang lain. Dalam menunjang jalannya suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang disepakati diperlukan keefektifan seluruh anggota dalam menjalankan tugas dan pengelolaan organisasi yang efektif. Pada umumnya organisasi di lingkungan kampus memiliki beberapa bagian yakni bagian keagamaan, bagian komunikasi dan informasi, bagian minat dan bakat, dan bagian sosial masyarakat. Setiap bagian melaksanakan program kerja yang berbeda, tetapi tetap berinteraksi satu sama lain dan proses kegiatan akan terus berkembang dan berubah seiring pergantian periode .
Dalam sebuah organisasi tidak terlepas dari yang namanya permasalahan, baik permasalahan kecil maupun besar. Permasalahan-permasalahan itu harus segera diatasi agar tidak menjadi senjata hancur nya sebuah organisasi. Adapun permasalahan-permasalahan yang sering dijumpai dalam organisasi di lingkungan kampus adalah komunikasi yang tidak berjalan dengan baik dan benar.
Menurut Kathleen K. Reardon dalam bukunya Interpersonal Communication, Where Mind Meet (1987), komunikasi berasal dari bahasa Latin communis atau common dalam bahasa Inggris yang berarti sama. Berkomunikasi berarti kita sedang berusaha untuk mencapai kesamaan makna, commonness atau dengan ungkapan yang lain, melalui komunikasi kita mencoba berbagi informasi, gagasan atau sikap kita dengan partisipan lainnya.
Dalam kehidupan kampus komunikasi dibagi menjadi menjadi 2 yaitu: Komunikasi Secara Primer, merupakan proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang atau symbol sebagai media. Contoh komunikasi primer yaitu komunikasi menggunakan gambar, warna, lambang bahasa isyarat dan lain-lain yang mana secara langsung dapat menerjemahkan pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. Kedua yaitu Komunikasi Secara Sekunder, merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan dengan bantuan alat atau sarana sebagai media. Proses komunikasi secara sekunder dilakukan karena sasaran berada di tempat yang jauh dan jumlahnya banyak. Contoh komunikasi sekunder yaitu komunikasi menggunakan media massa seperti telepon, surat kabar dan lain-lain.
Di dalam organisasi ada lima faktor yang dianggap paling penting bagi anggota organisasi dalam berkomunikasi (Dennis, 1975). Adapun kelima faktor tersebut yaitu:
Komunikasi atasan dengan bawahan, komunikasi ini dapat berjalan dengan baik apabila antara atasan dengan bawahan memiliki sifat saling mempercayai dan mendukung.
Komunikasi ke bawah, yaitu penyampaian pesan dari atasan kepada bawahan. Biasanya melalui lisan, tulisan, papan pengumuman, dan lain-lain.
Komunikasi ke atas, yaitu penyampaian pesan, gagasan dan pandangan dari bawahan kepada atasan, contohnya seperti laporan kerja dan lain-lain.
Komunikasi horizontal, komunikasi yang terjadi antar anggota yang memiliki jabatan atau tingkatan yang sama, seperti gosip dan lain-lain.
Komunikasi informal, yaitu komunikasi yang terjadi tanpa memperhatikan atau menggunakan struktur organisasi.
Di dalam suatu organisasi terdiri dari beberapa orang, yang mana dari setiap individu memiliki pemahaman dan pandangan yang berbeda-beda, hal inilah yang menjadi hambatan utama dalam proses berkomunikasi. Salah satu bentuk akibat dari hambatan tersebut yaitu terjadinya Miss Komunikasi, hal ini membuktikan bahwa komunikasi merupakan bagian terpenting dalam suatu organisasi.
Miss komunikasi merupakan kesalahpahaman antara kedua belah pihak dalam memahami sebuah proses komunikasi, sehingga ditemukan adanya perbedaan arti dalam pesan yang disampaikan dan pesan yang diterima. Miss komunikasi akan membawa dampak yang sangat besar bagi organisasi yaitu dapat menimbulkan pertikaian yang akan berdampak pada kehancuran organisasi.
Secara umum konflik atau pertikaian yang sering terjadi dalam sebuah organisasi di lingkungan kampus disebabkan oleh perbedaan cara pandang dan pemahaman, saling ketergantungan antara satu pihak kepada pihak lainnya, adanya aspirasi-aspirasi anggota yang tidak ditampung, dan adanya pihak yang ingin mencapai tujuan pribadi bukan tujuan bersama. Dari pertikaian tersebut ada beberapa cara atau strategi yang bisa dilakukan untuk menangani pertikaian atau konflik tersebut.
Strategi yang pertama yaitu melakukan introfeksi diri. Introfeksi diri sangat penting bagi setiap individu, dengan intropeksi diri seorang individu dapat memahami dan mengamati diri mereka serta menilai atas apa yang mereka lakukan selama ini. Introfeksi diri juga bermanfaat bagi kesehatan mental seorang individu.
Strategi yang kedua yaitu mengevaluasi anggota-anggota yang terlibat dalam konflik. Evaluasi ini sangat penting bagi sebuah organisasi, karena proses evaluasi ini mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat konflik tidak dari satu pihak saja tetapi dari kedua belah pihak.
Strategi yang ketiga yaitu musyawarah atau kesepakatan. Setelah mengetahui penyebab konflik, maka pihak-pihak yang terlibat konflik dan semua anggota dalam organisasi berkumpul dan bermusyawarah untuk mengambil jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Dengan strategi ini diharapkan pihak-pihak yang terlibat dapat menempati janji dari keputusan yang telah disepakati bersama.
Dari strategi-strategi dalam menangani konflik atau pertikaian tadi menandakan bahwa inti dari konflik atau pertikaian yaitu komunikasi. Komunikasi memiliki berbagai macam model yang bisa kita gunakan dalam berkomunikasi untuk menangani konflik atau perpecahan seperti komunikasi linier, intrapersonal, interpersonal dan masih banyak lagi. Semua model sangat berperan penting dalam kesuksesan dalam menangani sebuah konflik atau pertikaian. Dengan ini diharapkan semua anggota dalam sebuah organisasi yang berada dilingkungan kampus yaitu mahasiswa dapat berkreasi dalam berkomunikasi yang mana hal ini dapat menentukan akhir dari konflik dan tercapainya visi dan misi serta tujuan utama sebuah organisasi yang telah disepakati.

.jpg)

Komentar
Posting Komentar